Sabtu, 03 November 2012

Fisika Tidak Mudah, Tapi Indah


 
Apa yang ada di benak kalian ketika mendengar kata mekanika, kalor, listrik, magnet, dan relativitas? Bagi anda yang pernah duduk di bangku SMP dan SMA pasti sudah mengenal kelima kata tersebut. Maafkan saya apabila di antara kalian ada yang trauma setelah diingatkan kembali dengan kelima kata tersebut, dan tidak perlu berterima kasih juga bagi kalian yang begitu gembira dan semangat ketika mendengar kata-kata tersebut.
Di sini saya tidak berpihak kepada siapa pun. Hanya saja, ada yang perlu kalian ketahui di luar sana daripada hanya mengingat hasil ulangan yang membuat anda kecewa atau mengingat begitu pintarnya anda ketika mendapatkan nilai tertinggi dalam mata ujian fisika. Selamat bagi anda yang sudah mampu mencengkeram fisika hingga mengantarkan anda berdiri di atas podium untuk menerima penghargaan, dan tetaplah untuk berpikir positif bagi anda yang dulu atau saat ini kurang beruntung dengan fisika. Kalau para ilmuwan mengatakan bahwa kimia merupakan the center of science, maka saya berani mengatakan bahwa fisika adalah a beautiful angel yang akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Namun, tidak banyak para pemuda yang tahu, karena mereka masih terikat dengan paradigma-paradigma yang membuat mereka tidak bisa merasakan keindahan fisika.
Paradigma-paradigma seperti hanya mengandalkan belajar secara pasif, sistem kejar materi semalam, menghapal banyak rumus, dan anggapan bahwa fisika itu tidak lebih dari sekedar kebutuhan kurikulum sekolah, masih membelenggu kreatifitas berpikir sebagian dari para pelajar. Parahnya lagi, banyak dari mereka yang masih mempercayakan nasibnya pada rumus-rumus instan. Itu bukan cara yang tepat dalam memperlakukan fisika. Sama seperti disiplin ilmu lainnya, fisika perlu pemahaman dan kreatifitas. Pemahaman dan kreatifitas itu tidak akan datang hanya dari belajar secara pasif dan dalam satu malam saja, tapi datang dari kerja keras, cara belajar yang tepat, dan kebiasaan kita untuk berlatih menyelesaikan soal-soalnya secara rutin. Jangan membelenggu diri kita sendiri dengan kebiasaan-kebiasaan yang keliru. Coba saja simak cara belajar dari para pemenang Olimpiade Fisika Internasional.
Apakah mereka hanya golongan orang-orang yang memiliki IQ tinggi saja? Tidak! Mereka adalah orang-orang yang mau mengurangi sedikit waktu tidurnya untuk memahami, memperkuat konsep dasar, dan berlatih soal-soal dari mulai tingkat kesulitan yang rendah hingga tingkat kesulitan yang paling tinggi secara rutin. Ketika kebiasaan tersebut rutin kita lakukan, kita akan terbiasa untuk memodifikasi persamaan dari konsep dasar sesuai dengan kebutuhan dalam memecahkan permasalahan-permasalahaan fisika, sesulit apa pun itu.
Seperti apa yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa tidak hanya orang yang memiliki IQ tinggi saja yang bisa menguasai fisika, tetapi semua orang yang mempunyai kemauan untuk bekerja keras pun bisa. Namun, bukan berarti fisika itu mudah. Ukuran susah dan mudah itu sangat relatif. Kita hanya perlu visualisasi yang tepat dalam memahami setiap konsepnya, dan pemahaman itu baru bisa kita dapatkan apabila kita telah mengenal filosofi fisika dengan baik. Syarat fundamental tersebut sangat diperlukan dalam memulai belajar fisika, tentunya didukung dengan semangat dan motivasi yang tinggi. Motivasi itu bisa datang dari mana saja, salah satunya dari mimpi. Kita tidak dilarang untuk bermimpi. Mimpi adalah aset mesin waktu[1] kita yang sangat berharga. Cukup kita bayangkan bagaimana jadinya menjadi orang yang mampu menguasai fisika, mendapatkan nilai yang bagus dalam ujian, menjadi pemenang dalam olimpiade, apalagi mampu memenangkan hadiah nobel. Lalu, kita bayangkan tatapan mata semua orang yang kagum dan gemuruh tepuk tangan saat kita berdiri di atas podium. Mimpi-mimpi tersebut akan memberikan semangat yang luar biasa untuk melakukan terobosan-terobosan baru dalam memahami konsep-konsep fisika dan menemukan ide orisinilnya. Pemahaman konsep dasar yang kuat adalah kunci utama dalam menjawab permasalahan fisika di segala kondisi.
Sejak duduk di bangku SMP dan SMA kita dikenalkan dengan beragam rumus-rumus fisika, mulai dari kinematika, dinamika, optik, momentum, impuls dan beragam materi mekanika lainnya. Namun, masih sering dijumpai beberapa pelajar yang selalu bertanya “Untuk mengerjakan soal ini rumusnya apa?” padahal sebelumnya dia sudah mempelajari persamaan dari beberapa hukum fisika yang sebenarnya menjadi konsep dasar dari solusi soal yang dia tanyakan. Bedanya, untuk soal tersebut diperlukan sedikit modifikasi dan kreatifitas. Contoh lain, misalnya ada seseorang yang diperintahkan untuk mengerjakan 100 soal mekanika. Akibat dari kebiasaannya yang lebih mengedepankan hapal rumus daripada paham konsep, dia menyalahkan si pembuat soal, karena tidak ada satu soal pun yang cocok dengan contoh soal yang dia temukan di dalam buku. Padahal, semua permasalahan mekanika yang dia jumpai hanya perlu sedikit modifikasi dari persamaan hukum Newton.
Sebenarnya, perumusan fisika secara matematis itu datang belakangan. Mengenai keberadaan fisika itu sendiri bermula dari kekaguman manusia terhadap hal-hal yang dihadapinya, baik mikrokosmos (alam kecil) maupun makrokosmos (alam besar), hingga akhirnya tertarik untuk mengadakan penelitian. Bagaimana Newton bisa menggagas teori gravitasi? Bagaimana Michael Faraday bisa menggagas hukumnya tentang GGL induksi elektromagnetik? Semuanya berasal dari ketertarikan dan rasa ingin tahu yang besar. Kumpulan pengalaman-pengalaman dan pengetahuan-pengetahuan dari sejumlah orang yang dipadukan secara harmonik dalam suatu bangun yang teratur itu terkumpul menjadi sebuah ilmu pengetahuan. Namun, pernyataan secara kualitatif saja belum cukup, seperti apa yang dikatakan oleh Lord Kelvin, bahwa “Pernyataan fisika itu belum lengkap apabila tidak disertai dengan data matematis.” Misalnya, kita tahu bahwa galaksi bima sakti itu luas, tapi seberapa luaskah itu luas? Bagaimana luasnya jika dibandingkan dengan galaksi andromeda? Atau, kita merasakan bahwa air itu panas, tapi seberapa panas air itu panas? Bagaimana dengan panas tubuh orang yang sedang demam? Seberapa panas tubuhnya panas? Seberapa besar perbedaan panas antara air panas dengan tubuh yang demam tersebut? Kita tidak bisa menjawabnya tanpa menggunakan data matematis.
Ada sebuah cerita menarik yang bisa kita terapkan dalam mempelajari fisika. Cerita tentang sebuah ember, batu-batuan, pasir, dan air. Pada mulanya, ember belum terisi apa-apa, dan di sekitar ember itu tersedia batuan dari mulai batu besar, batu kerikil, pasir, dan air yang harus mengisi penuh ember tersebut dengan proporsional. Sebaiknya kita mulai mengisi ember tersebut dengan batu besar terlebih dahulu hingga penuh, lalu kita mengisinya dengan batu-batu kerikil hingga penuh, kemudian mengisinya kembali dengan pasir hingga penuh, baru kita isi dengan air hingga penuh. Hasil akhir, kita akan mendapatkan ember yang berisi batu besar, batu kerikil, pasir dan air dengan proporsional.
Sebaliknya apa jadinya apabila kita mengisi terlebih dahulu ember tersebut dengan air hingga penuh? Sebagian air akan tumpah kembali saat kita memasukan pasir, batu kerikil dan batu besar. Sesuai dengan hukum archimedes bahwa: “Jika benda tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair, maka zat cair tersebut akan dipindahkan sebesar volum benda yang dicelupkan.” Hasilnya, pengisian ember dengan air sebelumnya menjadi sia-sia. Kisah ini mengajarkan bagaimana seharusnya belajar fisika dengan baik dan benar. Apabila otak kita diisi terlebih dulu dengan hapalan-hapalan rumus baru setelah itu mengerjakan soal, ingatan rumus-rumus dalam otak kita bisa tumpah dan sia-sia, karena tidak ada fondasi kuat yang menahannya. Seharusnya kita isi dengan pemahaman yang kuat terlebih dulu, baru setelah itu kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis. Poin penting yang harus kita perhatikan selanjutnya adalah visualisasi dalam belajar fisika. Dalam mempelajari fisika, sebaiknya tidak hanya sekedar membaca buku, dan pasif di kelas saja. Cobalah keluar dan temukan peristiwa-peristiwa yang menarik di alam sekitar kita. Banyak sekali fenomena-fenomena fisika yang begitu cantik apabila kita amati dan kita renungkan. Misalnya, fenomena optik sederhana seperti kenapa sayap kupu-kupu dan bulu burung merak memancarkan warna-warna yang begitu cantik? Padahal, tidak dihasilkan oleh molekul pemberi warna atau pigmen. Tidak hanya itu, fenomena serupa seperti aurora, pelangi, matahari kembar, halo, fatamorgana dan masih banyak lagi yang lainnya.
            Fisika adalah a beautiful Angel. Seperti malaikat, fisika akan membawa kita menuju perubahan dan peradaban besar. Bagaimana tidak? Pasalnya, peralatan canggih yang hampir sering kita jumpai sekarang mayoritas adalah peralatan-peralatan fisika, seperti kipas angin, dispenser, rice cooker, oven, televisi, telefon seluler, motor, mobil, dan masih banyak lagi. Meskipun di samping itu terdapat pula konsekuensi dari efek negatifnya. Hampir semua disiplin ilmu sains bahkan ilmu sosial memerlukan konsep fisika. Biologi tidak akan berkembang dengan pesat tanpa adanya peralatan-peralatan biofisika yang membantu dalam melakukan penelitian seperti mikroskop, termometer, neraca, pendingin dan peralatan lainnya. Begitu pun dengan disiplin ilmu sains lainnya, tidak terlepas dari keberadaan fisika, dari mulai elektro dengan fisika listrik, astronomi dan kosmologi dengan astrofisika, telekomunikasi dengan fisika elektromagnetik, kimia dengan fisika material, pertambangan/geologi dengan geofisika, hingga ilmu ekonomi dengan ekonofisika.
            Pada saat bumi ini masih gelap gulita di setiap malam hari, dan belum ditemukan peralatan teknologi yang mempermudah pekerjaan manusia, kehidupan terasa sangat sulit dan melelahkan. Berbeda dengan masa sekarang. Tidak perlu pergi jauh-jauh untuk melihat saudara-saudara kita atau hanya sekedar menyampaikan rasa rindu karena kita memiliki televisi dan telefon, tidak perlu khawatir lagi akan ketinggalan informasi karena teknologi informasi semakin deras, tidak perlu repot-repot menggambar untuk mengabadikan atmosfer kebersamaan bersama keluarga karena kita memiliki kamera dengan bentuk dan aplikasi yang semakin bervariasi. Kita tidak perlu bingung bagaimana caranya melintasi samudra, karena kita memiliki pesawat. Hampir setiap aktifitas yang kita lakukan berkaitan erat dengan fisika. Jadi, tidak ada alasan lagi bagi orang-orang yang tidak menyukai fisika untuk menjauhi fisika.
            Selain di siang hari, sempatkanlah di malam hari untuk menatap langit yang berisi banyak sup galaktik yang cantik. Alam semesta ini terlalu indah untuk kita sia-siakan. Penciptaannya yang begitu apik dan tertib. Semuanya telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta. Mulai dari bagaimana gaya gravitasi matahari yang dikerjakan oleh matahari pada bumi dan planet-planet lain bisa bertanggungjawab untuk mempertahankan planet-planet pada orbitnya mengelilingi matahari, gaya gravitasi yang dikerjakan oleh bumi pada bulan bisa menjaga bulan pada orbitnya dalam mengelilingi bumi, hingga banyaknya bintang, batuan meteor, planetoid, planet-planet dalam galaksi yang berbeda namun masih bisa bertahan dan berdampingan satu sama lain. Semakin kita mengenal fisika, semakin banyak fenomena-fenomena yang sebelumnya dianggap tabu dan mistik kini terungkap secara ilmiah. Selain itu, kita bisa mengenal Allah lebih dekat dengan melihat semua fenomena alam semesta sebagai hasil penciptaan-Nya.
            Sudah saatnya kita hilangkan ketergantungan terhadap paradigma-paradigma yang selama ini kita anggap benar, padahal keliru. Belajar fisika tidak sekedar hanya membaca buku dan pasif di kelas, apalagi masih menerapkan sistem kejar materi semalam, dan menghapal banyak rumus. Tapi, belajar fisika itu dimulai dengan membangun fondasi yang kokoh dari memahami konsep, kemudian kita terjemahkan dalam bentuk persamaan matematis, dan mengembangkannya sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi. Fisika tidak Mudah, karena permasalahan fisika adalah permasalahan alam, sedangkan alam semesta ini tidak terbatas. Namun, kita akan mampu menghadapi sesulit apa pun permasalahan fisika, ketika kita berhasil memahami dan mengembangkan konsep dasarnya secara rutin dalam bentuk persamaan matematika sesuai dengan kebutuhan masalah yang kita hadapi, insting kita dalam memecahkan permasalahan fisika akan terbentuk dan kita akan merasakan keindahan yang membuat candu dalam setiap misteri yang disajikan oleh alam semesta ini.

[1] Mesin waktu yang dimiliki manusia adalah ingatan dan mimpi. Jika kita ingin pergi ke masa lalu, kita hanya perlu mengingatnya. Sedangkan jika kita ingin pergi ke masa depan, kita hanya perlu bermimpi.

0 komentar: